Museum Polri ada di komplek Tempat Besar alias Mabes Polri, di depannya berdiri patung Soekanto Tjokrodiatmodjo yang menghadap jalan layang busway jurusan Ciledug-Tendean yang sempat jadi viral sebab untuk ke arah ke haltenya kita harus naiki 118 anak tangga. Oiya, kembali lagi, kalau kamu belom mengenal dengan Soekanto Tjokrodiatmodjo, ia ialah kepala Polri yang pertama serta dipandang seperti Bapak Kepolisian Indonesia yang menempatkan fundamen kepolisian kekinian Indonesia. Dia menempati jabatan itu lumayan lama, 14 tahun, serta belum juga tertandingi oleh siapa saja sebagai Kapolri selanjutnya.
Di halaman museum ada satu panser yang sempat menguatkan divisi Brigade Mobil (Brimob) serta turut menumpas pemberontakan oleh DI/TII di Jawa Barat dan pemberontakan G30S. Lalu yang lumayan menarik perhatian ialah satu helikopter Bell 206 Jet Ranger bikinan Amerika Serikat tahun 1975 yang pernah dipakai untuk pekerjaan operasional patroli serta pengawalan udara. Di halaman samping dekat sama parkiran motor ada Meriam Talamburang, peninggalan Belanda pada perang dunia ke-2 yang dihibahkan dari Gubernur Maluku pada Kapolda Maluku sebelum pada akhirnya beralih tangan ke Museum Polri.
Museum Polri waktu itu malah sepi, kemungkinan sedikit pengunjung yang tahu tentang keberadaannya atau belum membuatnya jadi tempat wisata pilihan. Walau sebenarnya situasinya dingin sebab berpendingin ruang plus bila dibanding dengan museum-museum yang lain, sebab termasuk baru, bentuknya juga kekinian. Waktu baru masuk, pengunjung akan berjumpa dengan dinding besar yang dibikin seperti bendera negara kita. Pada dinding ini tertera Tribrata serta Catur Prasetya sebagai pandangan hidup serta dasar kerja tiap polisi. Dibagian putih tertera daftar nama anggota polisi yang gugur dalam beberapa momen di Nusantara.
Meskipun gratis, saya gak dapat melangkah masuk demikian saja sebab resepsionis yang berjaga di lobi minta saya untuk menyerahkan KTP serta menempatkan jaket di loker yang sudah disiapkan. Di samping loker ada papan tertulis “Ruang Soekanto” yang memampangkan foto-foto beliau waktu beraktivitas di kepolisian. Tetapi plakat-plakat yang kelihatan itu bukan penghargaan-penghargaan yang sudah diperolehnya sewaktu hidup tetapi plakat kenangan dari beberapa lembaga yang sudah bertandang kesini.